Rabu, 16 Januari 2013

Menunggu Gempa di Barat Sumatra

 
Setiap ada gempabumi besar, biasanya akan diikuti oleh perubahan permukaan tanah yang dalam bahasa ilmiah sering disebutkan dengan istilah Ground Deformation.Ground Deformation atau dalam bahasa kita disebut sebagai deformasi tanah berupa naik (up-lift) atau turun (down-lift) permukaan tanah. Kejadian tersebut dewasa ini sudah bisa diamati dengan  teknologi GPS Geodetik yang memiliki akurasi dan presisi yang sangat tinggi. Namun untuk mengamati deformasi yang menjadi indikasi kejadian gempabumi pada zaman dahulu kala bisa menjadi tantangan tersendiri bagi ilmuan kebumian. Tantangan ini harus dijawab karena dengan mengetahui gempa masa lalu mudah-mudahan kita bisa menduga-duga kapan lagi gempa itu akan terjadi atau perulangan gempabumi (earthquake circle).
Mikroatoll Sebagai Paleogeodetik
Seorang Ilmuan yang bernama D. R. Stoddart dan T. P. Scoffin pernah memublikasikan sebuah artikel yang berjudul “Microatolls: Review of Form, Origin and Terminology” pada Atoll Research Bulletin No. 224 Tahun 1979. Dalam artikel tersebut dikatakan bahwa terumbu karang microatolls pertama sekali didefinisikan oleh Darwin (1842), Dana (1872 dan 1875), Semper (1880 dan 1889) dan Gruppy (1886) yang berarti kepala koral atau blok koral yang tumbuh sampai batas terendah muka air laut. Mikroatoll pada awal pertumbuhannya akan terus tumbuh sampai mencapai permukaan air dan selanjutnya akan tumbuh ke samping. Keadaan laut yang landai dan tenang serta terdiri dari banyak terumbu karang lainnya merupakan tempat yang ideal untuk terbentuknya sebuah terumbu karang mikroatol.
Gambar 1. Gambar mikroatoll bentuk topi dan mangkok serta perubahannya akibat muka air laut yang dimodifikasi dari Scoffin and Stoddart tahun 1978 (sumber: Zachariasen, 2000)
Terumbu karang microatoll sangat cocok digunakan untuk mengamati perubahan muka air laut karena mencairnya es di kutub, namun demikian perlu menjadi cacatan bersama bahwa terbentuknya terumbu karang microatolls yang bertingkat tidak hanya dipengaruhi oleh mencair dan membekunya es di kutub tetapi juga dipengaruhi oleh up-lift dan down-lift permukaan tanah pada proses sebelum dan sesudah gempbumi terjadi. Terlebih lagi untuk gempa-gempa di kawasan zona subduksi. Apabila di suatu kawasan terus tejadi penurunan permukaan tanah maka akan terbentuk terumbu karang mikroatoll “mangkok” atau “cup” dan apabila terjadi kenaikan permukaan tanah maka akan terbentuk microatolls “topi” atau “hat” seperti pada gambar 1 di atas.
Bentuk mikroatoll yang bertingkat-tingkat bisa menjadi alat pengukur kenaikan permukaan tanah yang terjadi pada zaman purba atau dalam istilah ilmiahnya disebut sebagai paleogeodetik. Adanya perubahan bentuk terumbu karang mikroatol dari “topi” ke “mangkok” kemudian ke “topi” lagi bisa menunjukkan bahwa kawasan tersebut pernah terjadi gempabumi yang menyebabkan deformasi permukaan tanahnya. Kapan gempabumi  pernah terjadi bisa diperkiraan dari Annual ring(cincin tahun) yang ada di terumbu karang tersebut. Annual ring ini terbentuk karena perbedaan densitas terumbu karang yang disebabkan perbedaan musim (kemarau dan penghujan).
Mentawai Yang Kian Turun
Semenjak bulan Juli 1994 dan Januari serta Februari 1996, Zachariasen dan Prof. Kerry Sieh bersama kawan-kawannya sudah mulai melakukan penelitian tentang perubahan bentuk terumbu karang mikroatoll untuk mengamati fenomena gempabumi yang terjadi pada masa lalu atau gempa purba di kawasan kepulauan Mentawai. Pada tahun 2000, mereka memublikasinya hasil penelitiannya di Bulletin of Seismology Society of America yang berjudul “Modern Vertical Deformation above the Sumatran Subduction Zone: Paleogeodetic Insights from Coral Microatolls”.
Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa, dari 7 buah terumbu karang microatolls dimana 5 terumbu diambil di lokasi pantai busur luar kepulauan Mentawai dan 2 terumbu karang diambil di pantai utama yang mereka analisa. Mereka menemukan bahwa Kepulauan Mentawai sedang turun dengan kecepatan 4-10 mm/tahun selama 4 – 5 dekade terakhir. Di beberapa tempat juga dijumpai terumbu mikroatoll yang tumbuh lebih dari 1 meter. Tingginya terumbu karang mikroatol pada suatu kawasan mengindikasi bahwa telah terjadi penurunan Mentawai sejak beberapa dekade terakhir.
Kejadian yang sangat bertolak-belakang terjadi di pantai barat Sumatra (Sumantra Barat dan Bengkulu) dimana penurunan tidak terjadi. Penurunan yang hanya terjadi di sekitar pulau Mentawai bisa jadi mengindikasikan bahwa telah terjadi akumulasi energi sekian lama dan belum lepas di sekitar pulau Mentawai. Lock yang terjadi sekitar zona tunjaman (subduksi) telah menyebabkan kepulauan Mentawai yang berada digugusan depan zona subduksi tertarik ke bawah karena proses pergerakan lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah lempeng Eurasia. Proses kuncian ini sampai saat ini masih terjadi dan belum terjadi pelepasan energi.
Video Youtube yang dibuat oleh Tectonics Observatory, California Institute of Technology di bawah ini mudah-mudahan bisa mempermudah kita memahami proses kuncian yang menyebabkan turunnya pulau Mentawai.
Semenjak publikasi artikel tersebutlah, ramai orang mulai sadar akan potensi gempa yang ditunggu-tunggu di sekitar kawasan Mentawai. Karena energi gempa yang belum lepas ini, maka kesiapsiagaan warga sekitar pulau Mentawai dan Sumatra bagian barat wajib ada dan mutlak disiapkan. Namun satu hal yang kita ingat bersama bahwa sampai saat ini belum ada ilmu yang bisa memprediksi gempa dengan tepat. Yang mampu ilmuan lakukan adalah memprediksi dimana kawasan-kawasan yang memiliki tingkat tegangan dan regangan yang memungkinkan akan terjadinya gempa. Seperti kasus Mentawai, kita tidak tahu pasti kapan akan terjadi tapi kita meyakini kemungkinan akan terjadi di masa yang akan datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tuntunan Hidup Agar Jangan Sampai Tersesat, Tidak Ada Arwah Orang Yang Meninggal Gentayangan

Fenomena anak indigo makin banyak muncul ditengah masyarakat. Sayang, hingga saat ini belum banyak yang mengkritisi anak indigo dari ti...